Uncategorized

Raksasa Mengerikan Penunggu Sekolah (Part 1)

728kali dibaca

Hai Bekasinians!

Setelah mengakhiri cerita “Wanita Berambut Panjang” kemarin, gimana neh? masih pengen lanjut baca cerita horor dari Minbek gak?? Jadi ada cerita lagi nih yang bisa jadi lebih serem dari kemaren nih Beks? Mau tahu gimana ceritanya? Langsung aja dibaca yah 😳.

***

Di suatu sekolah di daerah Tambun, terkenal sebuah legenda yang sebenarnya cukup menganggu. Disebutkan kalau ada makhluk halus yang bersemayam di tempat itu, siswa bersekolah dengan khidmat padahal makhluk itu terang-terangan ada di tempat itu jika ada manusia yang bisa melihatnya.

Makhluk itu punya bulu di sekujur tubuhnya, matanya hitam pekat, tubuhnya lebih dari 2 meter, dan mulutnya yang berbentuk seperti bebek namun paruhnya mau copot. Deskripsi makhluk ini sebetulnya lumayan aneh jadi agak susah untuk dibayangkan, tapi jika sudah melihatnya pasti bulu kudukmu akan merinding.

Gambar 1. Makhluk itu kira-kira seperti ini, tapi dengan moncong bebek

Aku mau menceritakan bagaimana makhluk ini meneror sekolah itu, baiknya kalian bersiap karena… cerita ini akan cukup menganggu bagi sebagian orang. Aku harap kalian mengerti karena aku hanya menceritakan jujur apa adanya dan tidak dibuat-buat, tolong dengarkan baik-baik.

***

30 Oktober

SMA itu ya merupakan sekolah biasa dengan banyak pohon-pohon besar yang mengisi halaman sekolahnya, diantaranya ada pohon beringin yang jadi objek gosip anak-anak karena diduga berhantu. Aku akan menceritakan sebuah cerita tentang seorang cewe yang memang terkenal tidak takut hantu, jadi ya kerjaannya di sekolah mengolok-olok hantu terus.

Gambar 2. Pohon beringin di sekolah kami

Dia siswa yang cukup aneh, rumahnya di Cibubur tapi sekolahnya di Tambun—apa gak capek kan? Tapi dia tetap rajin bersekolah tanpa telat, selalu dapat prestasi yang baik di sekolah, dan parasnya juga cantik jadi banyak siswa-siswa ingusan yang tertarik padanya.

Tapi dia punya kekurangan yang benar-benar buruk menurutku, dia sama sekali tidak percaya hantu. Kalau lagi berkumpul Bersama teman-temannya, pasti dia yang paling gak percaya sama cerita-cerita hantu ini. Apalagi hantu di sekolah kita dikenal punya moncong bebek, sehingga ia sering diperolok dengan nama: “Hantu Bebek”.

“Hantu Bebek, kwek kwek Donal Bebek! Hahahahaha,” Begitu dia kalau lagi memperolok hantu ini.

Temanya yang lain pasti memperingatkannya.

“Ih Livi, lu jangan ngolok-ngolok penunggu sini dong. Gua gamau lu yang ngata-ngatain tapi kita yang kenapa-kenapa.”
“Ih apa sih lo, yang kayak gitu tuh gaada. Lu tau gak sih? Percaya-percaya begitu tuh bikin bego, bikin gak konsentrasi pas belajar tau ga.”

“Kita udah ngingetin ya yang penting, jadi misal hantunya suatu hari muncul depan komuk lo. Lo jangan manggil-manggil nama kita ya,” Salah satu temannya kembali mengingatkan.

“Iyaaaa temen-temenku sayanggg, btw gua mau nantangin kalian boleh ga?”

“Apa tuh?” Dina yang merupakan salah satu temannya menyahuti.

“Jurit malem yuk di sekolah, lo pada berani gaa?”

Teman-teman Livi kagetnya bukan main, karena udah tahu ini hantunya memang terkenal serem dan gak ada orang yang berani malam-malam datang kesini. Tapi Livi malah tiba-tiba berbicara seperti itu.

“Udah gila kali lu ya!? Lu tau gak 5 tahun lalu ada yang jurit malem disini? Cowo-cowo gitu, terus salah satunya ada yang kesurupan dan gak lama setelah kejadian itu kaki kirinya tiba-tiba lumpuh?” Dina kesal dan tidak setuju dengan ajakan Livi.

“Santai aja sistur, nanti kalau kalian mau, aku juga bawa si Glenn. Kan dia pasti pemberani tuh.”

Glenn adalah cowo terganteng di sekolah dan kebetulan Dina… suka padanya.

“Serius?”

Teman-teman yang lain tiba-tiba tertawa.

“Ahh elu Din, giliran bahas Glenn langsung mau luu,” Salah satu cewe lain menyahuti.

“Hahahahaha, udah ayo makanya ikut aja. Lagian kita kan udah mau lulus, jadi boleh lah seru-seruan bareng sekali-kali. Mau gak besok malem?” Livi tertawa dan berusaha meyakinkan teman-temannya.

Teman-teman Livi dan juga Dina berpikir sejenak.

“Kabarin gua aja kalau mau pada ikut, nanti besok malem langsung cuss.”

Semua memasang roman tertarik , tapi gak ada yang mengamini saat itu juga. Mereka membubarkan perkumpulan lalu pulang.

***

31 Oktober

Cewe-cewe itu sepakat untuk melaksanakan jurit malam, kebetulan malam itu adalah malam Halloween—jadi suasana berhantu semakin terasa. Mereka sudah menyogok satpam sekolah agar memperbolehkan mereka masuk, Glenn yang mengurus segala perijinannya dengan memberikan pak satpam sebungkus rokok koboi serta “merah-merah” 2 lembar.

Gambar 3. Sekolah ketika malam

Mereka memulai petualangan mereka dari ruang guru yang kuncinya juga sudah diberikan oleh pak satpam, CCTV juga sudah dimatikannya agar di kemudian hari tidak bisa di cek. Glenn masuk ke ruang guru dengan Bahagia, matanya nanar kearah meja yang terdapat tumpukan buku sampul coklat yang tingginya sekitar 60 cm—itu adalah meja Bu Jen, si guru ekonomi yang killer.

“Yuhuuuu, gua udah bawa spidol warna-warni neh. Pas banget kita bisa masuk kesini,” Glenn berkata dengan muka sumringah.

Meja itu langsung ia corat-coret dengan berbagai bentuk gambar yang (maaf) kurang senonoh, teman-teman yang lainnya tertawa tapi tidak dengan Livi.

“Glenn, lu gila ya? Kita emang seneng karena lu udah bisa bikin kita bisa masuk ke sekolah. Tapi kita mau jurit loh bukan mau vandalisme okay?”

“Yaelah emang ngapa si? Orang CCTV-nya juga udah dimatiin. Kalian juga pasti gasuka Bu Jen kan?”

Teman-teman yang sibuk mengecek berkas-berkas tugas mereka untuk dibetulkan kembali, jadi terfokus pada Glenn.

“Iya sih Liv… kan mumpung CCTV-nya mati juga ini. Gua ada tugas yang udah gua kumpulin tapi sebenernya belom kelar nih… bentar yaa,” Salah satu teman Livi menyahuti si Glenn.

“Tuh kan Liv, udah kalem aja lah. Ini kita balas dendam ama guru dulu, baru dah tuh yang ngeri-ngeri kita lanjutin,” Glenn berkata dengan nada mengejek.

“Apaan sih, lu pada emang sekolah tuh gaada prioritas-prioritasnya apa ya? Pada mikiran Hantu Bebek mulu sih, jadi bego kan.”

Dina, Glenn, dan teman-teman Livi yang lainnya langsung tegang.

“Ih gila lu ye, ini udah jam 11 malem dan lagi hari Halloween loh. Kok lu bisa-bisanya malah ngatain si penunggu? Gajelas banget,” Glenn membentak Livi.

“Ih kok lu nadanya jadi ngegas? Lagian lu gak danta banget, orang mau jurit malem malah nyoret-nyoret meja guru, sakit lu yak?” Livi balas membentak.

“Yaudah gini Liv, terserah lu deh mau gimana. Gua sih udah males banget ya jurat-jurit kalau lu udah ngata-ngatain si penunggu sekolah. Kalau lu emang berani, mending lu pergi sendiri, gimana?”

Perdebatan mereka berdua sangat panas dan Livi tiba-tiba membentak.

“YAUDAH, LAGIAN JUGA GUE KAGA ADA TAKUT-TAKUTNYA!”

Dia berjalan cepat untuk keluar dari ruang guru, tak ada satupun yang mengikutinya kecuali Dina. Dina mengekor dari belakang Livi yang berjalan dengan cepat, tiba-tiba Livi menengok kebelakang.

“Gausah ikut-ikutin gua deh! Lo ama Glenn aja tuh Din, cowo idola lo. Gue mah santai juga sendirian, lagian mana ada tuh yang namanya Hantu Bebek.”

Tiba-tiba Livi seperti tercekik, lehernya seperti dicengkram kuat oleh sesuatu. Dan seketika itu juga badannya melayang di depan Dina, dia mengerang kesakitan sambal berusaha melepaskan cekikan tak bewujud itu.

“Liv! Lu kenapa??” Dina berteriak khawatir.

Tanpa ada aba-aba, Livi yang sedang terbang dan tercekik tiba-tiba terpelanting dengan kencang ke lantai. Ia ditarik kedalam kegelapan oleh sesuatu, tapi sesuatu itu jelas tak berwujud. Dina yang panik langsung mengejar Livi yang ditarik oleh kekuatan astral itu, ia mengikuti jejak darah yang berasal dari kepala Livi yang menghujam ubin dengan keras.

Gambar 4. Jejak darah Livi setelah kepalanya terbentur ke lantai

“Livvvvv!! Liviiiii!” Dina berteriak dengan keras, tapi tak ada jawaban.

Glenn dan teman-teman  yang lain berhamburan keluar kelas.

“Hei, ada apa sih lu Din teriak-teriak? Nanti kedengeran warga deket sekolah gimana? Malah berabe jadinya,” Glenn mengomeli Dina.

“Glenn… lu liat Dina… aduh… liat lantai sekarang…”

Glenn dan teman-teman melihat lantai yang sudah ada bercak darah dan jejak darah yang mengarah ke pohon beringin sekolah. Muka mereka langsung penuh teror dan kebingungan, Glenn yang notabene harusnya paling berani malah terlihat layaknya rusa yang kena sorot lampu mobil.

“Kita harus cari Livi guys, gua gatau dia kenapa asli… tiba-tiba dia kayak kecekik terus kepalanya terpelanting ke ubin dan ketarik kearah pohon beringin itu…” Dina mengajak teman-teman yang lainnya.

“ANAK-ANAK MANIS, ADA BAIKNYA KALIAN PULANG. KARENA HARI INI AKU SUDAH CUKUP PUAS SETELAH SANTAPAN 5 TAHUN LALU,” Suara besar yang mengerikan tiba-tiba terdengar.

Mereka semua langsung lari berhamburan kearah gerbang, seperti rusa yang mendengar suara tembakan pemburu, meninggalkan Livi yang hilang ditelan kegelapan.

(Bersambung)

Penulis: Irza Fauzan

Editor: Nilam Baiduri

 

Leave a Response

Irza Fauzan
Intern Content Writer buat Bekasi Keren, suka makan burger, burger, dan burger.