Uncategorized

Antara Ada dan Tiada, Hanya Dia Yang Bisa Melihatnya (Part 3 – Bagian Akhir)

274kali dibaca

Hallo Bekasininans!

Berjumpa lagi bersama Minbek di Cerita Malam Jumat! Di part kali ini, Minbek akan menyelesaikan cerita “Antara Ada dan Tiada, Hanya Dia yang Bisa Melihatnya”. Di part kemarin, Adit sudah mulai bekerja di Pabrik. Di hari pertamanya, Adit diajak untuk berkeliling pabrik oleh wanita bergaun merah. Ia merasakan keganjalan pada orang-orang yang ada di pabrik tersebut, namun ia tetap berfikir positif dan terus berusaha untuk beradaptasi.

Kira-kira bagaimana kelanjutan kisah Adit bekerja di pabrik tersebut? Mari kita lanjutkan ceritanya.

***

Tiga minggu berlalu, banyak keganjalan yang mulai sering Adit rasakan selama bekerja di Pabrik, diantaranya adalah suasana pabrik yang begitu hening di siang hari. Wajah para pekerja di sini selalu tertunduk dan berekspresi datar seperti orang-orang yang tidak ramah.

Selama bekerja Adit selalu sendiri, orang-orang di sini sekan tak peduli dengannya. Setiap makan siang, Adit duduk berjajar di antara orang yang hanya fokus pada makanannya seperti sudah sangat kelaparan tanpa saling sapa. Di saat jam pulang pun begitu. Tanpa basa basi, para pegawai langsung pergi meninggalkan pabrik begitu saja.

***

Pagi itu, Ridwan menawarkan Adit untuk berangkat kerja bareng karena kebetulan Ridwan akan mengirimkan barang di daerah dekat pabrik Adit. Dengan naik motor bebeknya, Ridwan pun mengantarkan Adit bekerja.

Ridwan yang belum tahu jalan menuju pabrik diarahkan oleh Adit dari bangku penumpang. Namun anehnya, jalan yang biasa dilewati Adit untuk pergi bekerja terasa begitu berbeda. Entah kenapa mereka tidak bisa menemukan jalan yang biasa ia lewati dan justru hanya berputar-putar di satu tempat saja yang selalu berujung pada suatu tanah kosong. Karena kebingungan dan Ridwan sudah harus segera pergi, akhirnya Adit memutuskan untuk turun di tengah jalan dan pergi ke pabrik sendiri.

“Maaf ya dit, gue udah harus anter ini paket sebelum jam 7, sekarang udah jam 6 lewat, takut ga keburu. maaf ya!” ujar Ridwan
“Ah gapapa wan, gue yang minta maaf bikin lu telat. Makasih ya udah di anterin” jawab Adit santai sambil menepuk pundak Ridwan.

Setelah itu Ridwan pun pergi dengan motornya. Adit memutuskan untuk berjalan kaki karena tidak ada angkot yang lewat dan ia sudah terlambat. Setelah berjalan kurang lebih 100 meter, Adit tiba-tiba menemukan pabriknya. Padahal beberapa saat yang lalu ia sudah lewat jalan ini beberapa kali bersama Ridwan. Adit menggaruk kepalanya kebingungan, ia tidak mengerti apa yang terjadi pada dirinya. Tapi Adit tetap bergegas masuk kedalam pabrik itu dan mulai bekerja.

Siang harinya saat makan siang, ponsel Adit berdering. Layar ponselnya menunjukan ada telfon masuk dari Ridwan. Dengan santai Adit mengangkat telfon itu. Ridwan dari ujung telfon sana mengucapkan salam dengan nada yang tidak santai.

“Kenapa wan?” tanya Adit setelah menjawab salam dari Ridwan
“Dit, lo dimana sekarang?” kata Ridwan dengan nada suara tak biasa.
“di pabrik” jawab Adit
“Pabrik apa? pabrik yang tadi kita cari-cari tapi gak ketemu itu?” balas Ridwan lagi.
“iya, ternyata tadi dari tempat gue turun seharusnya kita lurus aja wan. Emang kenapa sih kok kayanya suara lo gak santai gitu” Ujar Adit
“Aduh dit, dengerin gue baik-baik ya. Mending lo keluar dari tempat itu sekarang!” Suara Ridwan mulai terdengar terengah-engah.
“Hah emang kenapa? lo kenapa sih?” Adit yang perkataan Ridwan tidak mengerti dengan maksud yang diucapkan temannya itu.
“Soalnya pabrik itu udah gak ada dit! Pabrik itu udah kebakar 8 tahun yang lalu! Mending sekarang lo buruan keluar dari pabrik itu soalnya pabrik itu bukan pabrik asli!” Jelas Ridwan
“Apaan sih lo, aneh banget. Orang Pabriknya masih beroprasi gini kok. Lo salah tempat kali!” Tangkas Adit tidak percaya.
“Serius dit! ini gue lagi ngumpul bareng temen-temen gue yang orang-orang asli sini, mereka bilang pabrik itu udah gak ada! pabrik itu…PABRIK HANTU!”

Setelah mendengar apa yang dikatakan Ridwan, ruangan yang tadinya terang, tiba-tiba saja menjadi gelap. Adit tidak bisa melihat apa-apa, dan semua hening. Tidak ada lagi suara-suara mesin jahit yang biasa ia dengar di pabrik ini, suara itu kini berubah menjadi suara tawa seorang wanita yang awalnya hanya ada satu dan lama kelamaan menjadi banyak. Suara tawa itu begitu mengerikan hingga membuat Adit pun lari walaupun ia tidak bisa melihat sekitar. Semakin kencang Adit berlari, suara tawa itu pun juga mengikutinya semakin dekat.

Ketakutan Adit terhadap tempat itu membuat Adit membaca ayat-ayat suci sambil terus berlari. Namun tiba-tiba……

BUK

Adit menabrak sesuatu yang keras dihadapannya. Ia terjatuh terbaring dan kepalanya terasa begitu pusing saking kerasnya benturan. Saat itu pula pusara tawa wanita yang mengejarnya semakin samar, di situ ia tidak sadarkan diri.

***

Adit merasakan ada seseorang yang menampar-nampar pipinya sambil berkata “Adit! Adit…Bangun dit!”. Mendengar suara itu adit pun tersadar perlahan, pandangannya buram dan melihat ada banyak orang tengah mengelilinginya. Wajah pertama yang ia kenali adalah wajah Ridwan yang memanggil-manggi namanya dan juga menampar pipinya.

“Aduuh, sakit banget. Dimana nih wan?” ujar Adit sambil memegang kepalanya yang habis terbentur.
“Ya ampun dit! syukur lo udah bangun! kita khawatir banget dari tadi lo gak bangun-bangun!” kata ridwan sambil membantu Adit untuk duduk.
“Emang gue kenapa, wan? Eh kok gue gak pake baju?” tanya Adit karena merasa tidak ingat dengan apa yang terjadi.

“tadi saya nemuin kamu de lagi pingsan di pinggir jalan udah ga pake baju. Saya pikir kamu korban tabrak lari tadi kepalanya berdarah-darah” ujar seorang pria paruh baya yang mengenakan kaos dan juga sarung yang berada dikerumunan.

“iya dit, tadi gue khawatir banget karena tiba-tiba telfon lo mati pas gue bilang pabrik hantu itu. Jadi gue berusaha buat nyari lo, dan nemuin lo udah kaya gini. Lo gak apa-apa kan dit?” Kata Ridwan begitu khawatir.

“Oiya pabrik itu! Baju gue ada di loker wan, tadi gue pake baju pabrik! Aduh gue gak ngerti lagi wan. Padahal emang dari awal udah aneh tapi gue tetep aja mau kerja disitu. Terus tadi gak tau kenapa, tiba-tiba aja gelap dan gue kebangun udah disini” Cerita Adit sambil mengingat-ingat apa yang terjadi pada dia.

“Ooh, pasti masnya kena sihir pabrik berhantu ya! Ya ampun mas, ternyata pabrik itu masih makan korban ya” ujar salah satu bapak-bapak dikerumunan itu.

Bapak itu menceritakan bahwa dulu disini memang ada pabrik germen, tapi 8 tahun yang lalu pabrik itu dibakar oleh orang yang tak suka dengan pemiliknya dan karena pintu di kunci dari luar oleh orang yang membakar, banyak karyawan yang tewas termaksud bosnya. Semenjak itu, pabrik itu menjadi pabrik berhantu yang suka mengundang orang untuk bekerja disana padahal isinya hantu semua, karena meresahkan warga akhirnya pabrik itu dibongkar hingga rata menjadi tanah.

Mendengar penjelasan dari warga, membuat Adit sadar bahwa keanehan yang ia rasakan selama bekerja di pabrik itu ternyata karena memang pabrik itu bukanlah pabrik sungguhan, melainkan hanya PABRIK HANTU.

Penulis: Nia Aulia

Editor: Nilam Baiduri

Leave a Response

Nia Aulia

Nia Aulia

Social Media Specialist