Sejarah

Pondok Gede : Daerah Kecil yang punya Sejarah Panjang

128kali dibaca

Hai Bekasinians!

Pondok Gede merupakan nama Kecamatan yang terdiri dari enam kelurahan, yakni : Jatibaru, Jatibening, Jatibening Baru, Jaticempaka, Jatiwaringin, dan Jatimakmur. Daerah ini juga menjadi perbatasan antara Kota Bekasi dan Jakarta Timur.

Dahulu kala Pondok Gede dikenal sebagai lahan perkebunan (landgoed) dengan luas tanah mencapai 325 hektar. Lain dari masa sekarang, di masa awal adanya lahan perkebunan ini, Pondok memiliki arti pembukaan area baru untuk bertani, tapi lambat laun masyarakat mengenal pondok sebagai pemukiman sampai dengan bangunan tempat tinggal.

Dilansir dari ayobekasi.com, nama Pondok Gede menjadi semakin luas di kenal karena adanya sebuah bangunan besar peninggalana Belanda yang berada di daerah tersebut. Penduduk setempat menyebutnya sebagai Pondok Gede. Dari bangunan itu akhirnya orang-orang mengenal daerah tersebut sebagai Pondok Gede hingga sekarang.

Gedung pondok gede dibangun sekitar tahun 1775 oleh Pendeta Johannes Hooyman, seorang pendeta pemerintahan yang juga anggota Bataviaasch Genootschap van Kunsten en Wetenschappen (Ikatan Seni dan Ilmu Pengetahuan Batavia).

 

Rumah Pondok Gede | Sumber : Sejarah.Jakarta

Gedung ini terdiri dari dua lantai dengan bentuk yang sangat panjang dan atap yang juga sangat besar. Di lantai satu dibangun dalam gaya Indonesia dengan serambi pada ketiga sisinya (joglo). Sementara lantai dua nya dibuat gaya tertutup Belanda dengan memiliki banyak jendela. Rumah kombinasi dua gaya ini, dulu dikenal sebagai rumah khas dari tuan tanah.

Menurut Adolf Heuken dalam bukunya berjudul Tempat-tempat Bersejarah di Jakarta (2016), bangunan bersejarah di Batavia memang memiliki interior rumah yang bercita rasa tinggi. Hal ini dapat dilihat dari Plesteran dari beberapa ruangan dan serambi, ditambah aneka hiasan pada pintu dan kusen jendela.

Pada tahun 1800 Lahan Pondok Gede di sewa oleh seorang Yahudi Polandia bernama Leendert Miero. Ia menetap disana selama 20 tahun dan melakukan renovasi pada bangunan menjadi bergaya Indies. Leendert Miero adalah seorang tuan tanah kaya raya yang juga pemilik gedung di kawasan Gajah Mada, Jakarta yang sekarang kita kenal sebagai Gedung Arsip Nasional. Hingga akhir hayatnya Leendert Miero pun dimakamkan di lahan Pondok Gede ini.

Makam Leendert Miero | Ayo.bekasi

Kepemilikan dan fungsi lahan serta bangunan Pondok Gede sempat berganti-ganti. Selain sempat berfungsi sebagai perkebunan dan hunian tempat tinggal, Dalam catatan sejarahnya Pondok Gede sempat dijadikan sebagai markas tentara di Pemerintah Kolonial Belanda pada saat Perang Dunia II tahun 1920. Kemudian menjadi perkebunan karet. Tahun 1946 lahan berpindah tangan ke NV Pado Rado hingga tahun 1962, lalu berganti menjadi tepat Induk Koperasi TNI Angkatan Udara/INKOPAU.

Pada 1987 Inkopau pernah menulis surat kepada Gubernur DKI Jakarta yang isinya tentang rencana pembangunan pusat rekeasi dan perelanjaan di areal Pondok Gede. Kemudian Di tahun 1988 sempat ada wacana kalau bangunan Pondok Gede hendak di pugar oleh Dinas Museum dan Sejarah DKI Jakarta untuk dilestarikan. Namun nyatanya, bangunan Pondok Gede masih sama saja sampai tahun 1992, dan sayangnya tiba-tiba dibongkar untuk digantikan menjadi sebuah gedung pertokoan modern.

Nah itu dia sejarah dari Pondok Gede, Beks. Meskipun bangunan Pondok Gede sudah tidak ada namun namanya tetap abadi hingga sekarang.

Penulis : Nia Aulia Kurniati
Editor :

Leave a Response