Sejarah

Napak Tilas: Bekasi Lautan Api

137kali dibaca

Hallo Bekasinians!

10 November diperingati sebagai Hari Pahlawan Nasional. Penetapan hari ini berdasarkan dari moment bersejarah yakni pertempuran antara arek-arek Surabaya dengan tentara Belanda hingga menelan banyak korban jiwa untuk mempertahankan kemerdekaan Indonesia.

Setahun usai pertempuran itu, Sukarno menetapkan 10 November sebagai Hari Pahlawan melalui Keputusan Presiden No. 316 Tahun 1959 tentang Hari-hari Nasional. Gelar pahlawan tidak hanya disematkan pada mereka yang gugur dalam balutan seragam prajurit, akan tetapi juga seluruh masyarakat Indonesia yang berkorban di perang kemerdekaan.

Tidak banyak orang yang tahu kalau Bekasi dulu pernah luluh lantak, dibumihanguskan dan berkobar menjadi lautan api. Peristiwa ini pun dikenal sebagai Bekasi Lautan Api.

Masyarakat mungkin lebih familiar dengan kisah Bandung Lautan Api. Namun Bekasi pun memiliki kisah yang sama ketika Belanda dan sekutu memasuki Indonesia kembali di saat Indonesia sudah menyatakan kemerdekaannya.

Dilansir dari hops.id. saat perang kemerdekaan tahun 1945 – 1949, Bekasi merupakan front terdepan pertahanan Republik Indonesia dalam melawan tentara Sekutu dan menjadi Kota yang paling sulit untuk penjajah kuasai. Hal ini dikarenakan rakyat Bekasi memiliki pola perjuangan yang tidak hanya bertahan, namun juga menyerang secara sporadis dengan golok sebagai senjata hingga membuat prajurit Belanda takut dan menganggap Bekasi sebagai daerah neraka.

Awal Peristiwa Bekasi Lautan Api

Bekasi Lautan Api bermula dari peristiwa jatuhnya pesawat Dakota milik sekutu yang berisikan 26 personel militer Inggris dari Mahratta Light Infantry. Pesawat dengan tujuan Jakarta – Semarang itu terpaksa mendarat darurat setelah mengalami kerusakan mesin pada 23 November 1945 di Rawa Gatel, Cakung yang saat itu masih menjadi bagian dari Bekasi.

Jatuhnya pesawat ini menimbulkan perhatian warga. Rakyat setempat membawa dan menahan 26 tentara Inggris tersebut ke Tangsi Polisi (sekarang Polres Bekasi).

Berita tentang penahanan tentara ini pun terdengar sampai petinggi pasukan Inggris di Jakarta yakni Letnan Jendral Sir Philip Christison. Ia sangat marah hingga mendesak Pemerintah Indonesia melalui perdana menteri Sutan Sjahrir untuk membebaskan tawanan hingga mengancam akan menghancurkan Bekasi.

Singkat cerita, para pejuang Bekasi menolak untuk membebaskan tentara Inggris dan membunuh para tentara sekutu kemudian jasadnya dimakamkan di perkuburan di belakang Tangsi Polisi yang telah dipersiapkan sebelumnya.

Kemarahan Sekutu Hingga Melakukan Penyerangan

Peristiwa pembunuhan ini lantas memicu kemarahan dari tentara Inggris. Pada 29 November 1945, tentara Sekutu menerjunkan lebih dari 1 batalyon infanteri yang dibantu artileri, berpuluh panser lapis baja dan pesawat Heuwitse, dan 76 truk serdadu India bersenjata modern untuk menggempur langsung Bekasi.

Sekutu menyerang melalui jalur Cakung, namun gagal setelah dihadang perlawanan TKR serta sejumlah laskar. 13 Desember 1945 pasukan inggris dengan kekuatan lebih besar masuk melalui Pondok Gede dan menerobos garis demarkasi.

Tidak tinggal diam, di pimpin oleh pemuda laskar rakyat dan penduduk kampung di bawah kepemimpinan KH Noer Ali serta beberapa anggota TKR pimpinan Madnuin Hasibuan menurunkan ratusan pejuang Bekasi dikerahkan untuk membalas serangan pasukan sekutu.

Sekutu memasang 40 buah granat juga membakar ribuan pemukiman penduduk. Dalam sekejap mata, Bekasi berubah menjadi lautan api. Ribuan permukiman warga dibakar api. Puluhan ribu warga sipil dipaksa mengungsi ke luar kota dalam peristiwa yang dikenal sebagai Bekasi lautan api itu

Tentara Inggris membakar pemukiman warga Bekasi | Sumber : Hops.id

Berdasarkan keterangan sejarawan Ali Anwar, pembakaran dan pengeboman yang dilakukan oleh sekutu terjadi mulai dari alun-alun Bekasi sampai Kranji, Teluk Buyung, Teluk Pucung, Bulak Kapal hingga Lembah Abang dan Karawang. Berdasarkan laporan KNID Bekasi terdapat 14 orang luka, 641 keluarga dengan 3379 jiwa telah kehilangan tempat tinggal.

sumber : netralnews

Tindakan brutal tentara Inggris mendapat protes keras dari pemerintah Indonesia. Dua hari setelah sekutu menjadikan Bekasi Lautan Api, Perdana Menteri Sutan Sjahrir, melancarkan protes lewat pidato radio pada 19 Desember 1945. Peristiwa ini pun akhirnya mendapat kencaman dari dunia internasional dan ramai diberitakan oleh media asing.

Pada akhirnya, Belanda memang angkat kaki dari Bekasi. Juga dari Republik. Tepatnya selepas agresi militer II pada 1949. Sebuah Tugu Perjuangan bercat putih di alun-alun Bekasi didirikan oleh pemerintah RI pada 5 Juli 1955 untuk mengenang Resolusi Rakyat Bekasi (17 Januari 1950) untung mengenang peristiwa Bekasi Lautan Api, dan serangkaian pertempuran lain.

Di Hari Pahlawan ini, mari kita kobarkan semangat kemerdekaan! Sebagai generasi muda, jangan mudah putus asa dan selalu semangat menggapai cita-cita.

Penulis : Nia Aulia Kurniati

Editor : Nilam Baiduri

Leave a Response