Sejarah

Napak Tilas Stasiun Bekasi: Tersibuk Sejak Jaman Kolonial Belanda

272kali dibaca

Hai Bekasinians!

Ketemu lagi sama Minbek disini. Hari ini Minbek mau bahas tentang sejarah dari Stasiun Bekasi nih! Siapa yang udah gak sabar? Yuk kita kulik semuanya😀

gambar: St. Bekasi 1983 | sumber: bekasi.pojoksatu.id

Jadi, pada jaman kolonial Belanda dulu, ada beberapa perusahaan swasta yang bergerak dalam bidang kereta api. Perusahaan pertama bernama Nederlandsch Indische Spoorweg Maatschappij (NISM) yang juga merupakan perusahaan kereta api pertama di Indonesia. Perusahaan ini membangun jalur kereta api di Jakarta untuk lintasan Jakarta-Bogor (lintas tengah) yang diresmikan pada tahun 1873.

Kedua ada Staatssporwegen (SS), perusahaan kereta api pemerintah mengoperasikann jalur barat, yang meliputi Jakarta-Tanjung Priok diresmikan 1886 dan Jakarta-Anyer dengan cabang Duri-Tangerang pada tahun 1899.

Ketiga ada perusahaan Bataviasche Ooster Spoorweg Maatschappij (BOS) yang membuka jalur timur, yaitu Jakarta-Bekasi-Karawang. Pembangunan ini dibagi menjadi empat tahap, yaitu:

1. Jakarta-Bekasi pada 31 Maret 1887
2. Bekasi-Cikarang pada 14 Agustus 1890
3. Cikarang-Kedunggede pada 21 Juni 1891
4. Kedunggede-Karawang pada 20 Maret 1898

gambar: jadwal perjalanan Jakarta-Karawang tahun 1900 | sumber: heritage.kai.id

Awalnya operasional Stasiun Bekasi berada di bawah perusahaan BOS. Tapi pada saat proses pembangunan ke jalur Karawang, BOS mengalami kesulitan dana dan buruknya menejemen. Lalu, BOS meminta bantuan dana kepada pemerintah Hindia Belanda dan pemerintah pun menyepakati dengan syarat setelah pembangunannya selesai, lintas Batavia-Karawang dibeli oleh perusahaan kereta api negara Staatssporwegen (SS), yang temasuk pula Stasiun Bekasi.

Adapun pengklasifikasian biaya perjalanan kereta api dibedakan berdasarkan kelas. Pada tahun yang sama, untuk perjalanan dari Jakarta ke Bekasi untuk penumpang kelas 1 (Eropa) membayar tiket sebesar 1,7 gulden. Dengan rute yang sama, penumpang kelas 2 (timur asing: Cina, Arab) membayar sebesar 0,8 gulden, tarif penumpang kelas 3 (campuran dan pribumi) sebesar 0,45 gulden dan khusus penumpang inlanders (pribumi) cukup mengeluarkan uang 0,26 gulden. Sementara itu biaya barang per 10 kg adalah 0,10 gulden.

Pada tahun 1954, Djawatan Kereta Api yang adalah cikal bakal PT KAI, menetapkan Surat Keputusan DDKA No. 20493/BB/54 tanggal 16 Maret 1954 tentang klasifikasi stasiun menjadi 6 kelas, yakni Stasiun Besar, Stasiun Kelas 1, Stasiun Kelas 2, Stasiun Kelas 3, Stasiun Kelas 4, dan Stasiun Kelas 5. Hal ini dilakukan untuk menentukan fasilitas dan kondisi kebutuhan pengangkutan. Berdasarkan SK tersebut, Stasiun Bekasi masuk dalam kategori stasiun kelas 4. Tapi kini, Stasiun Bekasi merupakan stasiun Besar kelas B.

Nah itu dia Beks, sejarah dari Stasiun Bekasi yang seringkali kita pakai untuk berpergian. Semoga artikel ini bermanfaat! Sampai jumpa di artikel berikutnya, daah👋🏼

 

Penulis: Devin Inesha

Editor: Nia Aulia

Leave a Response