InformasiSejarah

Menilik Tradisi Perang Api di Peringatan Hari Raya Nyepi

56kali dibaca


Hai Bekasinians…

Rahajeng nyanggra rahina Nyepi Caka 1943 untuk seluruh Bekasinians yang sedang
merayakannya.

Hari Raya Nyepi tahun ini jatuh pada tanggal 14 Maret 2021 atau sesuai pada kalender Bali jatuh pada tanggal 1 Saka 1943. Bekasinians, tahu nggak sih kalau masing-masing daerah di Indonesia punya banyak cara unik tersendiri lho untuk merayakan Nyepi. Salah satunya yang akan kita bahas kali ini adalah tradisi “Perang Api” yang dilaksanakan di Lombok, Nusa Tenggara Barat.

Tradisi turun temurun ini sudah ada sejak jaman kerajaan, lho Beks. Kiranya sekitar abad ke-16. Tradisi yang diikuti oleh seluruh umat Hindu di Lombok dan dilakukan sehari sebelum perayaan Nyepi ini bertujuan untuk mengusir wabah penyakit yang dibawa oleh Butha kala atau roh-roh jahat yang ada di muka bumi dan mengganggu aktivitas manusia. Makna lain dari “Perang Api” yang dilakukan, juga untuk pembersihan atau mensucikan diri dari unsur-unsur jahat sebelum melaksanakan Tapa Brata Penyepian (Larangan saat Nyepi).

Larangannya sendiri disebut Catur Brata Penyepian yang artinya empat larangan saat Nyepi. Empat larangan tersebut ialah:
1. Amati geni
Yakni larangan untuk menghidupkan lampu atau cahaya apapun.
2. Amati karya
Yakni larangan untuk melakukan kerja
3. Amati lelungan
Yakni larangan untuk melakukan berpergian ataupun perjalanan
4. Amati lelanguan
Yakni larangan untuk bersenang-senang

Perang Api yang dilaksanakan saat hari menjelang sore tepatnya setelah arak-arakan ogoh-ogoh, dilakukan oleh warga Lombok di seputaran Tugu Tani, Cakranegara, Kota Mataram, NTB. Perang yang terdiri atas dua kelompok yakni Negara Saka dan Sweta dimulai ketika bobok (senjata yang terbuat dari daun kelapa) dibakar. Masing-masing kelompok memiliki senjata berupa daun kelapa kering dan mulai melakukan serangan. Meskipun “Perang Api” ini beresiko menimbulkan luka, tetapi semangat antar dua kelompok dan masyarakat yang menonton tetap membara.
Setelah “Perang Api” selesai, mereka pun saling rangkul dan bersalaman. Tidak ada permusuhan ataupun dendam oleh warga dari kedua kubu tersebut. Jikapun ada, akan langsung diselesaikan hari itu juga.

Itu dia beks penjelasan tentang tradisi perang api. Semoga bermanfaat untuk pengetahuan ya. Sekali lagi minbek ucapkan Selamat Hari Raya Nyepi 1943.

 

Penulis: Indriani Putri

Editor : Nia Aulia K

Leave a Response