Uncategorized

Dari Merdu hingga Mengganggu, Ini Dia Fakta Unik Tentang Speaker Toa

192kali dibaca

Hai Bekasinians!

Baru-baru ini lagi ramai perihal orang ngebangunin sahur terlalu berisik. Biasanya, itu terjadi akibat penggunaan pengeras suara atau toa dengan volume berlebihan. Fakta tersebut menggambarkan cukup rendahnya tingkat toleransi di lingkungan, padahal kan tidak ssemua masyarakat Indonesia memeluk agama islam. Aturan formalnya sendiri tertera dalam Surat Edaran Nomor  B.3940/DJ.III/Hk.00.7/08/2018  dari Kementrian Agama, yang tidak menganjurkan membangunkan sahur dengan toa. Nah saat bulan Ramadhan pu, penggunaan toa masjid hanya ditujukan untuk tadarus di siang dan malam hari.

Beks, dari tadi kan nyebut “toa” mulu nih tapi kalian tahu gak sih kalau toa itu ternyata bukan sinonim dari kata pengeras suara? Tenang, tenang… kalian bakal nemu jawabannya kok kalau baca artikel ini sampai akhir. Simak yuk!

***

Penggunaannya Sejak Zaman Dahulu

Masjid Agung Surakarta Dulu Kala. Sumber: karyakubah.com

Pengeras suara ternyata sudah dipergunakan sejak tahun 1930-an. Awalnya digunakan di Masjid Agung Surakarta untuk mengumandangkan adzan. Namun, pada saat itu istilah toa belum populer seperti sekarang. Di Jakarta sendiri toa mulai berkembang pemakaiannya pada tahun 1960-1970. Saat zaman kemerdekaan lah speaker corong tersebut populer di masjid hingga bertahan hingga saat ini.

Toa, Si Merek Dagang

Pengeras Suara yang Sering Disebut Toa. Sumber: primanada.com

Walau dipakai untuk mempersingkat sebutan pengeras suara, toa ternyata berasal dari nama sebuah perusahaan loh! Yaitu Toa Corporation, merupakan sebuah perusahaan Jepang yang didirikan tahun 1934 dan mulai masuk ke Indonesia tahun 1960. Kehadiran toa ini mengalahkan merek yang sudah ada dan akhirnya penyebutan kata ‘toa’ pun menyebar luas. Kalau kamu cari arti toa di KBBI sih pasti yang muncul  adalah megafon.

***

Walau ada pro-kontra dalam penggunaannya, toa telah menjadi identitas bagi pengeras suara di masjid. Eksistensi toa bukan lagi sebagai merek dari megafon, tetapi juga nama yang melekat setiap kita mendengar pengumuman atau kumandang adzan dari masjid.

Kalau Bekasinians lebih suka dibangunin sahur dengan cara sahur keliling pakai bedug, suara toa masjid atau telfon dari si doi nih? Komen di kolom komentar ya!

 

Penulis: Yasmin Mumtaz

Editor: Nilam Baiduri

Leave a Response