info bekasiInformasiSejarah

KH. Noer Ali, Pahlawan yang Terlambat Diakui.

268kali dibaca

Dijadikan sebagai salah satu nama jalan di Kota Bekasi, sebenarnya siapa sih KH. Noer Ali?

KH. Noer Ali lahir di Ujungmalang (sekarang Ujung harapan, Bekasi) pada tanggal 15 Juli 1914. Sejak kecil, Noer Ali memiliki semangat yang besar untuk mendalami ilmu-ilmu agama. Menginjak usia remaja, Noer Ali pergi menuntut ilmu di Mekkah dengan uang pinjaman dari majikan ayahnya. Ketika sedang belajar di Mekkah, seorang pelajar asing berkata pada Noer Ali “Mengapa Belanda yang negaranya kecil bisa menjajah Indonesia? Harusnya Belanda bisa diusir dengan mudah jika ada kemauan!” hal ini membangkitkan semangat kebangsaan Noer Ali.

Tahun 1940, Noer Ali kembali ke Batavia (Jakarta). Hal pertama yang dilakukannya adalah membangun Pesantren At-Taqwa di kampong halamannya. Ketika Agresi Militer Juli 1947, Noer Ali menghadap Jend. Oerip Soemoharjo untuk meminta saran perihal permasalahan Krawang-Bekasi. Ia pun diperintahkan untuk membuat basis perlawanan masyarakat tanpa nama TNI. Kembali ke Jawa Barat, Noer Ali mendirikan Markas Pusat Hisbullah-Sabilillah(MPHS). Kekuatan pasukan MPHS berjumlah 600orang, berada di Karawang – Bekasi menyerang pos-pos Belanda dengan penuh semangat juang.

Oleh karna itu ia mendapat julukan “Singa Karawang Bekasi.” Ada pula julukannya yang terkenal adalah “Belut Putih” atau “Belut Karawang Bekasi.” Julukan itu didapatnya karna konon ia selalu lolos/menghilang ketika hendak ditangkap Belanda.

Usai Indonesia merdeka, KH. Noer Ali berusaha memajukan kualitas pendidikan di Indonesia. Beliau mendirikan Lembaga Pendidikan Islam, Madrasah Diniyah dan Sekolah Rakyat Indonesia (SRI).

Setelah banyak perjuangan dan hal yang dikorbankan, mengapa KH. Noer Ali tidak langsung diakui sebagai Pahlawan Nasional?

Menurut sejarawan Ali Anwar, pengajuan KH. Noer Ali sebagai Pahlawan Nasional sudah dimulai sejak tahun 1994, berawal dari  diajukan ke Pemerintah Bekasi kemudian provinsi hingga pemerintah pusat. Hasilnya tidak menyatakan KH. Noer Ali langsung menjadi pahlawan.

Oleh Soeharto, presiden kala itu, ia hanya diberikan penghargaan Bintang  Naraya, sebuah tanda kehormatan tertinggi untuk orang-orang yang menjaga keutuhan Indonesia. Penghargaan itu berada 1 tingkat dibawah pahlawan nasional.

Leave a Response