InformasiSejarah

BIOSKOP: DUNIA SINEMA DAN HIBURAN

46kali dibaca

Hai Bekasinians!

Bekasi Keren mau cerita tentang salah satu sarana hiburan yang paling digemari masyarakat Indonesia salah satunya di Kota Bekasi, yaitu bioskop! Kalian tahu gak kapan pertama kali bioskop dibangun di Kota Bekasi? Nah, bioskop di Kota Bekasi pertama kali berdiri pada tahun 1993, Mall Metropolitan menjadi tempat hadirnya dunia sinema pertama kali buat Bekasinians. Cinema 21 yang hadir di Metmal (panggilan sayang Mall Metropolitan) menjadi awal bagi hadirnya banyak bioskop yang berada di Kota Bekasi.

Pada tahun 2003, Cinema 21 hadir di Mall Mega Bekasi sebagai bioskop kedua yang ada di Kota Bekasi. Setelah itu, hadir juga Blitz Megaplex di Bekasi Cyber Park untuk meramaikan dunia sinema di Kota Bekasi. Antusias memasyarakat Kota Bekasi yang sangat besar pada bioskop, menjadikan grup jaringan bioskop membuka studio bioskop mereka di berbagai mal.

Sampai hari ini, Kota Bekasi telah memiliki 18 gedung bioskop yang terletak di berbagai pusat perbelanjaan. Mulai dari Metropolitan Mall hingga Summarecon Mall Bekasi yang memiliki studio IMAX—studio bioskop dengan kualitas proyektor dan sound yang lebih prima. Wow udah banyak banget ya, mau nonton tinggal keluar bentar udah nyampe ke bioskopnya.

Bioskop yang menjadi pendahulu dari bioskop modern pertama kali didirikan di Paris,
Prancis pada 28 Desember 1895 oleh Auguste dan Louis Lumière. Ketika pertama kali
didirikan, Lumière bersaudara menayangkan film-film pendek karya mereka di bioskop
tersebut. Hari itu juga menandakan peristiwa bersejarah untuk hadirnya bioskop-bioskop
konvensional yang kini juga ada di Indonesia.

Nah, di Indonesia bioskop mulai hadir di tahun 1900. Bioskop ini didirikan di rumah
seorang Belanda yang beralamat di Jalan Tanah Abang I, Jakarta Pusat. Bedanya sama bioskop
yang ada sekarang yaitu film-film yang ditayangkan adalah film bisu dan bioskopnya gaada
atapnya, jadi kalau kehujanan ya… bubar hehe. Bioskop pertama di Indonesia ini dimiliki
secara pribadi oleh sang warga negara Belanda, jadi belum berbentuk grup atau jaringan
sinema seperti sekarang.

Baru pada 1951, dunia sinema Indonesia memiliki warna dan bersuara. Bioskop itu
bernama Metropole, dengan kapasitas 1700 orang dan mesin proyektor yang mampu
memancarkan film berwarna dan memili sistem suara. Tetapi, kekurangan dari bioskop ini
adalah hanya memiliki 1 studio yang menampung 1700 orang—terlalu banyak. Saat ini,
bioskop Metropole yang bertempat di Jakarta merupakan bioskop tertua yang masih berdiri
di Indonesia. Bekasinians boleh banget tuh mampir kesitu kalau mau ngerasain sensasi
sejarah dunia sinema.

Sebuah gebrakan yang sampai saat ini masih diamini oleh pengusaha-pengusaha
bioskop di Indonesia muncul di tahun 1987, bioskop itu bernama Twin Theatre yang berlokasi
di dekat Monas. Gebrakannya adalah dengan mendirikan bioskop di tengah-tengah pusat
perbelanjaan sehingga, orang-orang yang sedang datang ke pusat berbelanjaan atau mal bisa
menikmati sinema selepas belanja-belanja ria. Selain itu, bioskop ini juga memiliki lebih dari
1 studio yang menjadikan tipe bioskop ini tidak terlalu ramai di dalam studionya dan lebih
terasa personal.

Jaringan bioskop komersil terbesar di Indonesia hadir pada tahun 1988, 21 Cineplex
mendirikan bioskop di Jalan MH Thamrin. Bioskop ini menjadi cikal bakal dari jaringan bioskop
21 Cineplex yang menggurita di Indonesia, dengan mereknya yang saat ini akrab dengan
ditelinga yaitu Cinema 21 dan XXI. Saat ini, Grup 21 Cineplex telah memiliki total 1240 layar
yang tersebar di 33 kota di 146 lokasi di seluruh Indonesia.

Bioskop sudah jadi saksi bisu untuk masuknya berbagai film blockbuster yang memiliki
banyak kenangan bagi kita. Salah satunya adalah Avengers: Endgame yang meraup
pendapatan sebesar US$ 2.7897 miliar atau setara dengan Rp39 triliun. Bioskop juga
menyimpan momen-momen yang mungkin berbekas indah di hati Bekasinians, kencan
pertama, nonton bareng bersama teman-teman, sampai momen menonton film kesukaan
Bekasinians. Kasih tau kita dong kenangan dan film kesukaan kamu di kolom komen!

 

Penulis : Irza Fauzan

Editor : Nilam Baiduri

Leave a Response