InformasiSejarah

Hari Anak Nasional 2020: Apakah Anak Sudah Benar-benar Terlindungi?

548kali dibaca

Hai Bekasinians!

Bertepatan dengan Hari Anak Nasional , Minbek bakal bahas  sesuatu yang cukup serius dan bukan hanya omong kosong belaka nih (Iya, gak kayak cerita-cerita mistis gapenting yang kamu pantengin terus itu). Minbek akan bahas dari perspektif si anak diiringi dengan pertanyaan APAKAH ANAK SUDAH BENAR-BENAR TERLINDUNGI?

Gambar 1. Ilustrasi

Di tahun 2020, sebanyak 8.259 kasus kekerasan yang melibatkan anak, 3.555 kasus terkait dengan kategori anak yang berhadapan dengan hukum dan 1.433 kasus kategori anak korban kejahatan seksual, ini jelas angka yang sangat mengkhawatirkan. 407 dari kasus kekerasan diantaranya terjadi pada awal masa pandemic, dan terus meningkat di bulan-bulan setelahnya (Sumber: Pernyataan Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA), I Gusti Ayu Bintang Darmawati)

Menurut Preventing Child America, kategori pelecehan seksual pada anak meliputi mengekspos secara tidak tepat atau menundukkan anak pada kontak, aktivitas, atau perilaku seksual. Pelecehan seksual termasuk oral, anal, genital, bokong, dan kontak payudara.

Gambar 2. Kebahagiaan anak-anak yang harus kita jaga

Sebenarnya apa yang jadi penyebab perilaku jahanam ini? Ini adalah sedikit sebab-sebab kenapa kekerasan dan kekerasan seksual pada anak bisa terjadi:

  1. Anak cenderung menutup diri dan tidak melawan ketika diberi kekerasan oleh orang yang lebih dewasa dari mereka.
  2. Pedofilia, dimana pelaku kekerasan seksual memiliki ketertarikan seksual pada anak kecil yang jauh dibawah umurnya.
  3. Adanya paradigma bahwa anak merupakan “properti” orang tua, sehingga mereka bebas melakukan apa saja kepada anak tersebut.
  4. Pelampiasan frustasi seksual, yang dilampiaskan pada anak atau anggota keluarga lain.
  5. Pelaku pernah mengalami hal tersebut, sehingga terdorong untuk melakukannya pada orang lain ketika dewasa.
  6. Terlalu sering menonton pornografi.

Di Bekasi sendiri, Komisi Perlindungan Anak Daerah (KPAD) menyebutkan bahwa kasus kekerasan anak di sepanjang tahun 2019 berjumlah 89 kasus di sepanjang tahun 2019. Tetapi angka ini diklaim masih sedikit, dikarenakan masih banyak orang yang enggan melapor. Hal ini tentunya jadi PR tersendiri untuk KPAI, karena Kota Bekasi yang notabene sudah diberi julukan “Kota Layak Anak”.

Perlindungan terhadap anak dari kekerasan dan kekerasan seksual sebenarnya sudah dipayungi hukum lewat Undang-Undang Nomor 35 Tahun 2014. Isi pasalnya antara lain mewajibkan dan memberikan tanggung jawab untuk menghormati pemenuhan hak anak tanpa membedakan suku, agama, ras, golongan, jenis kelamin, etnik, budaya dan bahasa, status hukum, urutan kelahiran, dan kondisi fisik dan/atau mental, serta melindungi, dan menghormati hak anak dan bertanggung jawab dalam merumuskan dan melaksanakan kebijakan di bidang penyelenggaraan perlindungan anak.

Ancaman pidana yang menanti bagi pelanggarnya adalah penjara maksimal 15 (lima belas) tahun, minimal 5 (lima) tahun dan denda maksimal sebanyak Rp5.000.000.000,- (lima milyar rupiah). Yang lebih khusus dalam undang undang ini adalah jika pelaku pemerkosaan atau pencabulan dilakukan oleh orang tua, wali, pengasuh anak, pendidik, atau tenaga pendidik maka pidananya ditambah 1/3 (sepertiga).

Pada Hari Anak Nasional yang dilaksanakan setiap tanggal 23 Juli ini, Minbek sangat berharap kalau anak bisa lebih dilindungi dan para orang tua dapat memberikan perlindungan yang selayaknya. Karena kita tak pernah tahu kapan kejahatan itu mengintai anak-anak yang kita cintai, atau anak dari kerabat kita.

Penulis = Irza Fauzan

Editor = Siti Sarah Dwi Nahla

Leave a Response

Irza Fauzan
Intern Content Writer buat Bekasi Keren, suka makan burger, burger, dan burger.