Uncategorized

Wanita Itu Berambut Panjang (Part II)

100kali dibaca

Halo Bekasinians!

Berjumpa lagi di konten Malam Jumat, hari ini Minbek akan melanjutkan cerita yang kemaren nih yang berjudul: “Wanita Itu Berambut Panjang”. Buat kamu yang penasaran kelanjutan cerita minggu lalu, yuk langsung aja baca ya Beks.

***

Sejak kehadirannya di kamarku beberapa hari yang lalu, ia mulai samar-samar menampakkan dirinya di rumahku. Saatku lapar di malam hari dan mampir ke dapur, dia berdiri dalam bayangan di dekat kulkas dan hanya menatapku dengan dingin. Itu pertama kali aku melihatnya; rambutnya lepek tak terurus dengan ujung rambutnya yang menempel di lantai, wajahnya tersembunyi dibalik rambut lebatnya, badannya kurus kering hingga tulangnya menonjol keluar dari pundaknya, warna kulitnya pucat hampir putih sehingga tidak terlihat seperti manusia yang harusnya hidup, dan tubuhnya terbungkus dress putih lusuh compang-camping.

Gambar 1. Ilustrasi dapur rumah

Aku bertatapan langsung dengannya hari itu, tubuhku sebetulnya bergetar dan menggigil ketika menatapnya. Suhu ruangan serasa turun jadi 10 derajat, aku mencoba menahan dingin yang menggarayangi tubuhku ini. Saat aku mengkedipkan mata, sosoknya menghilang ditelan kegelapan. Ruangan yang tadinya dingin kembali jadi hangat, aku kebingungan dan masih mencoba mencari nalar dari kejadian yang barusan terjadi. Aku akhirnya ke kamar dengan linglung dan terjaga hingga pagi, mataku terlalu kaku untuk menutup, korneaku disambut fajar tanpa terasa.

Hari-hari berikutnya ia terus menerus menganggu ketenangan rumah ini, rumah kami yang tadinya jadi tempat bernaung ketika lelah dengan hingar bingar dunia luar, mulai terasa tidak nyaman sejak kemunculan sosoknya. Wanita itu hadir tak tau waktu dan tempat dan ia hanya datang ketika aku berada dirumah—keberadaanku menarik perhatiannya. Kala aku sedang dirumah dan sedang sendiri, suara keras seperti meja dipukul dengan stik bisbol akan terdengar, aku yang selalu buru-buru mengecek sumber suara selalu disambut dengan keheningan. Tetapi ada yang terasa aneh, seakan-akan seperti dia sebenarnya masih disitu dan berdiri di sebelahku.

Ayah dan ibu tidak pernah percaya ketika aku menceritakan wanita itu.

“Nak, kamu tuh harusnya lebih banyak sholat. Kalau memang iya wanita itu ada, Allah akan selalu melindungi kamu dari wanita itu,” Ayah selalu mengingatkan aku, padahal aku selalu melaksanakan sholat dan tak pernah putus.

“Selalu yah, aku tuh gapernah gak sholat. Aku aja selalu berdoa kok biar dilindungi dari hal-hal yang membahayakan aku.”

“Iya nak, mungkin coba lebih khusyuk lagi.”

Aku selalu kesal ketika ayah atau ibu bilang begini, mereka tidak menenangkanku yang terganggu oleh kehadirannya Aku selalu melaksanakan kewajibanku, tak pernah putus. Tapi semakin hari, ia semakin sering meramaikan heningnya rumah waktu aku sendiri. Kini ia benar-benar jadi bagian dari rumah.

***

Kakak pulang, ia yang selama ini merantau akhirnya memutuskan untuk pulang. Kami sekeluarga bingung, padahal selama ini ia selalu pulang hanya ketika sedang hari libur atau ketika ujian akhir semesternya sudah selesai, padahal sekarang masih pertengahan semester. Kakakku berambut gondrong dengan ujung belakang rambutnya selalu dikuncir kuda, wajahnya coklat tua karena sering terjemur sinar matahari, tubuhnya kurus kering dan bibirnya ungu pucat karena terlalu sering menghisap batang rokok.

Ketika ia melangkahkan kaki untuk masuk kerumah, ia berhenti dengan tatapan nanar kearah antara dapur dan kamarku yang berada di belakang rumah. Ibu dan ayah hanya bisa menatapnya aneh, mungkin bingung ada apa dengan anak sulungnya. Kakak tiba-tiba menunjuk dapur dengan cepat, seakan-seakan ada seseorang disitu.

“Bu ada sesuatu di rumah, aku sudah ngerasain sejak di kampus. Dadaku gaenak ternyata benar, ada sesuatu disini, ada pengganggu!” Kakak berkata dengan lantang dan kencang sehingga keluargaku kaget.

Gambar 2. Rumahku seperti dilanda badai salju

Tiba-tiba rumah menjadi sedingin es, badanku menggigil sekali. Kakakpun demikian, ia mulai memeluk erat tubuhnya dan mencoba menahan dingin yang merasuki badannya. Ubin rumahku laksana lempengan es di selatan kutub, hawa rumahku sedingin tempat dimana badai salju bergemuruh. Ibu dan Ayah hanya menatap kami dengan tatapan khawatir, kemudian mereka memeluk kami berdua. Tapi rasa dingin es itu malah mengalir ke kulit mereka, sehingga mereka melepas pelukan hangat itu.

Langkah kaki terdengar dari arah kamarku, langkahnya lambat dan seperti suara kaki telanjang yang menginjak lumpur basah. Suara langkah itu semakin cepat dan kian terdengar menjijikan, langkah kaki itu mendekati kakak yang menggigil. Saat suara kaki itu sudah mulai mendekati kakak, sebuah wujud yang familiar kemudian muncul—rambut basah kuyup yang menyentuh lantai, tubuh pucat dengan wajah yang tertutup poni panjangnya, dan tulang yang menonjol dari kulitnya yang mau yang tipis.

Tangannya menyentuh leher kakak, mencengkramnya keras. Dan suara serak seperti kuku yang berdecit di papan tulis terdengar:

“Hei bajingan, siapa yang kau bilang penganggu? Ini tempatku bernaung, kalian hanya berteduh sementara disini.”

Cengkraman itu semakin kuat, leher kakak mengeluarkan darah.

“Kalau kalian ingin selamanya, aku butuh dia. Aku menyukainya,” Ia berkata seraya menunjukku.

Gambar 3. Ia menunjukku

Wajahku yang memang sudah pucat karena menggigil kian kini kian mirip gading, kenapa aku? Apa yang dia inginkan dariku?

Bersambung

Penulis: Irza Fauzan

Leave a Response

Irza Fauzan
Intern Content Writer buat Bekasi Keren, suka makan burger, burger, dan burger.