Seni dan Musik

Menilik Film “Tilik”

226kali dibaca

Hai Bekasinians!

Kalian udah nonton film pendek “Tilik” belum nih? Film yang sedang ramai diperbincangkan oleh warganet ini, mengangkat sebuah cerita yang akrab banget dengan dunia sehari-hari di Indonesia dan kental sekali dengan kebudaan Jawa– terutama di Jawa Tengah dan sekitarnya.

Gambar 1. Poster film Tilik, tuh Bu Tejo yang pake kerudung ijo 😆

Minbek sendiri sebenernya jarang banget nonton film pendek, lebih sering nonton yang feature film (sebutan untuk film dengan durasi panjang). Yaudah dari pada penasaran, Minbek langsung meluncur ke channel YouTube Ravacana Film deh untuk nonton ‘Tilik’. Oh iya, film ini disutradarai oleh Wahyu Agung Prasetyo yang sebelumnya juga sudah menelurkan film-film pendek yaitu “Singsot” (2016), “Kodhok” (2016) dan “Anak Lanang” (2017). Sebenarnya masih banyak film-film pendek yang telah beliau sutradarai, tapi yang ganas banget viewers-nya di YouTube ya 3 film tersebut.

Tenang Beks! Ini pembahasan filmnya NO SPOILER (gaada bocoran plot pentingnya) jadi gausah khawatir ya. Minbek bakal bahas beberapa plot yang tidak akan ganggu pengalaman kamu ketika nonton film ini ya, tapi kalau kamu mau pengalaman nonton film kamu murni dan gak terganggu sama sekali. Mendingan kamu berhenti sampe paragraf ini, dan cek filmnya dulu yaa!

Menilik film “Tilik” secara lebih dalam

“Tilik” dimulai dengan adegan kumpulan ibu-ibu yang rame-rame berada diatas truk container, intro yang cukup memikat rasa tertarik minbek buat film ini. Terus kita dihadapkan dengan 2 karakter yang sedang berbincang di bagian paling depan container; Bu Tejo dan Yu Sam.

Gambar 2. Adegan film pertama Tilik, begitu pula dengan mayoritas adegan film yang di shoot diatas truk

Bu Tejo dan Yu Sam sedang bergunjing, membicarakan seorang perempuan yang bernama Dian. Dari obrolan mereka berdua, sepertinya Dian ini adalah seorang kembang desa yang meresahkan warga– cantik gemulai dan menimbulkan prasangka. Bu Tejo dan Yu Sam asik bergunjing ria, tiba-tina Yu Ning yang juga berada di truk itu mematahkan segala praduga-praduga Bu Tejo.

“Tilik” berhasil bikin Minbek tertarik banget, Bu Tejo yang terus menerus bergunjing dengan ibu-ibu lain dan Yu Ning yang terus mematahkan kalimat-kalimat pedas Bu Tejo memberi sebuah fondasi buat konflik utama serta tema film ini– rumor. Bu Tejo diatas truk sibuk menebar rumor tentang Dian menjadi cerminan bagi masyarakat Indonesia yang emang doyan gali rahasia orang lain.

Gambar 3. Karakter Bu Tejo benar-benar mencuri perhatian Minbek, kejulidannya bikin kita semua cekikikan sendiri

Yang bikin film ini menonjol banget adalah digunakannya bahasa jawa untuk dialognya, jadi ada keunikan tersendiri dari “Tilik” ditambah dengan lanskap Kabupaten Bantul yang jadi setting dari film ini– indah, membumi, dan autentik. “Tilik” juga berhasil menghadirkan dialog yang tidak monoton dengan diselipkan sejumlah guyonan di beberapa bagian. Lawakan-lawakan ini lucu banget karena Minbek sendiri sedikit paham Bahasa Jawa jadi ada rasa familiar gitu deh!

Plot utamanya sendiri dalam pandangan Minbek terbagi jadi 2; ibu-ibu mau menjenguk bu lurah dan perdebatan antara Bu Tejo si biang gosip dengan Yu Ning yang terus membela Dian. 2 hal ini jadi daya tarik untuk film “Tilik” karena membahas hal yang kental banget di budaya Indonesia yaitu gotong royong dan BERGUNJING.

Gambar 4. Perdebatan Yu Ning dan Bu Tejo jadi puncak konflik dari film ini, seru dan menggelitik

Karakter Bu Tejo yang merupakan pemeran utama film ini berhasil kasih warna tersendiri buat “Tilik”, karena ia merupakan karakter utama tetapi punya sifat menyebalkan yang bakal bikin kamu gemas sendiri Beks. Yu Ning sebagai karakter “baik” di film ini juga bisa mengimbangi pedasnya mulut Bu Tejo.

“Tilik” menurut Minbek berhasil menghadirkan karakter-karakter yang tidak one dimensional (satu dimensi), misal Bu Tejo yang bikin panas para penonton tetapi di suatu titik di film ini dia mampu membuat Minbek merasa simpatik padanya. Begitu pula dengan Yu Ning yang diceritakan sebagai karakter yang suci, ia pun tak luput dari sebuah titik hitam juga. Para karakter di “Tilik” terasa nyata dan akrab, jadi kita sebagai penonton bisa merelasikan penokohan masing-masing karakternya dan cerita di film ini.

Gambar 5. Siti Fauziah, aktris yang memerankan Bu Tejo. Akting Siti Fauziah disini mantep banget deh, Minbek sukaaaa banget!

Minbek juga terkesima banget sama akting para aktor dan aktris di film ini, terutama Bu Tejo. Siti Fauziah selaku aktris dari Bu Tejo bisa membawa penonton merasakan karakter ibu-ibu biang gosip, aktingnya yang natural dan tulus, bisa dibilang akting Siti Fauziah bakal jadi batu loncatan untuk karirnya di kemudian hari.

Kesimpulan Minbek…

Secara keseluruhan, pengalaman menonton “Tilik” adalah sebuah pengingat buat Minbek, kalau Indonesia masih bisa buat film dengan jiwa kebudayaan orisinil yang kental didalamnya. Mungkin ditambah sisi modernisme dengan adanya sisipan bahasa-bahasa  inggris dari internet, tapi “Tilik” merupakan contoh bahwa film Indonesia punya ruh dan ciri khasnya tersendiri, kita punya kebudayaan yang khas dan tak perlu meniru gaya-gaya hollywood.

Gambar 6. Wahyu Agung Prasetyo selaku sutradara berhasil memberikan sebuah karya yang bisa dinikmati oleh semua kalangan, dan punya kelas untuk sebuah film pendek

Yah begitulah bahasan untuk film “Tilik”, agak singkat mungkin ya soalnya kapabilitas untuk bahasnya juga gak kayak kritikus film hehe 😁. Tapi ya Minbek suka banget sama film “Tilik”, gausah kasih-kasih skor lah, karena seni tak bisa dinilai dengan angka, seni itu dirasakan di jiwa.

Penulis: Irza Fauzan

Editor: Nilam Baiduri

1 Comment

Leave a Response

Irza Fauzan
Intern Content Writer buat Bekasi Keren, suka makan burger, burger, dan burger.