info bekasiSejarah

Monumen Kali Bekasi, Kala Kali Bekasi Menjadi Merah

166kali dibaca

Bekasinians!

Pernah liat sebuah monument yang berdiri tegak menjulan di Jalan Ir. Haji Juanda, Bekasi Selatan? Buat kamu yang gak tahu, monumen tersebut bernama “Monumen Kali Bekasi”. Monument berwarna abu dengan hiasan emas ini merupakan simbol perdamaian antara rakyat Indonesia dan tentara Jepang.

Ada sebuah cerita yang terselubung dari monumen ini, cerita yang sempat meninggalkan sebuah noda besar bagi Kota Bekasi. Apa yang sebenarnya mempelopori pendirian monumen ini?

Diberhentikannya Kereta dari Para Kaigun

Gambar 1. Mural pemberhentian kereta kaigun

19 Oktober 1945, sebuah kereta akan melewati Stasiun Bekasi. Letnan Dua Zakaria Burhanuddin telah mendapat perintah dari Jakarta agar membiarkan kereta itu lewat. Kereta yang akan lewat di Stasiun Bekasi itu berisikan 90 orang anggota kaigun. Kaigun sendiri merupakan pasukan angkatan laut milik Kekaisaran Jepang yang ada antara tahun 1869 sampai 1947.

Kereta itu akhirnya sampai ke Bekasi, tetapi kereta yang sebetulnya berisi pasukan kaigun yang sudah menyerah itu dihentikan oleh pasukan TKR (Tentara Keamanan Rakyat) Bekasi. Jalur rel dari kereta itu dialihkan ke jalur buntu, kereta itupun akhirnya terpaksa berhenti di dekat Stasiun Bekasi—tepatnya di dekat Kali Bekasi.

Burhanuddin ingat betul pada waktu lampau, bahwa Tentara Jepang pernah berbuat kejam pada rakyat Bekasi. Burhanuddin yang membangkang perintah dari Pemerintah Jakarta, langsung memerintahkan pasukannya untuk menggeledah kereta itu. Para pasukan TKR itu menanyakan kepemilikan surat izin dari Pemerintah Republik Indonesia (RI) kepada para kaigun, untungnya para kaigun itu dapat menyerahkan surat izin dari Menteri Luar Negeri Achmad Soebardjo yang dibubuhi tanda tangan Presiden Sukarno.

Pembantaian di Kali Bekasi

Gambar 2. Kali Bekasi, tempat pembantaian pasukan kaigun

Di tengah pemeriksaan, tiba-tiba seorang prajurit Kaigun melepaskan tembakan pistol dari arah salah satu gerbong tersebut. Tembakan itu ibarat komando bagi para pasukan TKR untuk menyerbu. Maka berhamburalah ratusan orang memasuki kereta api itu dengan membawa berbagai macam senjata. Setelah melalui pertempuran kecil, beberapa menit kemudian, massa berhasil menguasai kereta api.

Pasukan TKR yang berhasil menguasai kereta itu lalu menyeret sisa-sisa tentara kaigun yang masih hidup ke tepi Kali Bekasi. Kejadian nahas yang mendasari berdirinya monumen ini pun terjadi—para tentara TKR menyembelih para kaigun beramai-ramai. Kali yang jernih itu ternodai dan jadi merah darah para pasukan kaigun, seharusnya mereka sudah bisa pulang ke Jepang selepas naik kereta yang akan menuju Bandar Udara Kali Jati Subang. Kejadian itu kemudian diingat sebagai “Pembantaian Kali Bekasi”.

Makna Monumen Kali Bekasi

Gambar 3. Monumen Kali Bekasi yang jadi pengingat kejadian itu

Monumen itu didirikan sebagai simbol perdamaian Jepang dan Indonesia, memori masa lampau yang sempat menodai hubungan kedua negara akhirnya bisa diselesaikan. Pendirian monumen ini berkat amukan Laksamana Maeda, yang waktu itu langsung menghubungi Kepala Kepolisian RI Komisaris Jenderal Raden Said Soekanto Tjokrodiatmodjo.

Ia merasa bahwa tindakan ini merupakan hal yang tidak manusiawi dan seharusnya tidak terjadi di bumi Indonesia, Kombes Soekanto berusaha tidak terpancing amarah yang dilontarkan Maeda itu. Setelah meminta maaf terlebih dahulu, ia kemudian mengatakan bahwa Insiden Stasiun Bekasi tersebut di luar kemampuan Pemerintah RI.

Setelah dilakukan pendekatan politik secara intens oleh Pemerintah RI, Maeda akhirnya dapat dibuat maklum. Namun, ia memberi catatan bahwa kejadian itu harus menjadi yang terakhir dan Pemerintah RI wajib mengantisipasi terjadinya insiden serupa secara serius.

Sebagai bentuk tanggung jawab terhadap insiden tersebut, pada 25 Oktober 1945, Presiden Sukarno berkunjung ke Bekasi. Di depan rakyat Bekasi, ia memohon agar rakyat menaati setiap perintah yang datang dari Pemerintah RI dan melarang keras para pejuang untuk melakukan lagi upaya-upaya pencegatan kereta api.

Sebagai memorial dari kejadian ini, Pemerintah Indonesia mendirikan Monumen Kali Bekasi sebagai pengingat bagi masyarakat Bekasi. Monumen itu memiliki mural yang menggambarkan peristiwa penghentian kereta api ini, disitu juga tertulis sebuah narasi mengenai kejadian itu.

Sekarang kamu sudah tahu sejarah dari Monumen Kali Bekasi ya Beks, jadi pas kamu kesana, kamu udah tahu bahwa monumen ini merupakan sebuah pengingat atas kejadian nahas di masa lampau. Kalau sekarang mah hubungan Indonesia sama Jepang mah udah baik ya Beks, jadi mari tinggalkan apa yang ada di masa lampau, tapi jangan sampai pernah kita lupakan.

Sumber: Kompas, Historia.id

Penulis: Irza Fauzan

Editor: Nilam Baiduri

Leave a Response

Irza Fauzan
Intern Content Writer buat Bekasi Keren, suka makan burger, burger, dan burger.