Uncategorized

Raksasa Mengerikan Penunggu Sekolah (Part 2 – Bagian Akhir)

75kali dibaca

Hai Bekasinians!

Kembali lagi di konten terhoror se-Bekasi yaitu “Cerita Malam Jumat”!

Hari ini Minbek bakal melanjutkan cerita minggu lalu yaitu “Raksasa Mengerikan Penunggu Sekolah”. Mari Minbek refresh ingatan kamu dengan rekap cerita ini:

Livi—seorang siswi dari sebuah SMA di daerah Tambun—merupakan orang yang sama sekali tidak percaya dengan keberadan hantu. Sekolah yang tempat ia belajar konon disebut-sebut sebagai tempat tinggal makhluk bertubuh besar mengerikan, makhluk itu bertubuh tinggi besar, buruk rupa, berburu hitam pekat seperti beruang, dan memiliki moncong seperti bebek.

Livi yang tidak percaya dunia makhluk halus, selalu memperolok keberadaan hantu ini. Teman-temannya sudah mewanti-wanti dirinya agar tidak berbuat seperti itu, tapi Livi tetap melakukannya dengan sering. Livi yang mulai angkuh dan sombong, mengajak teman-temannnya untuk jurit malam disekolah—tujuannya agar bisa tahu apakah hantu itu benar ada atau tidak.

Tetapi, saat mereka memutuskan untuk melakukan jurit malam itu, Livi kembali menunjukkan tindakan tidak sopan. Ia kembali mengolok-olok hantu itu saat bersama teman-temannya, tiba-tiba Livi dicekik oleh kekuatan supernatural. Kepalanya dihantamkan ke lantai dengan keras, dan tubuhnya terseret kedalam kegelapan. Livi menghilang, teman-temannya yang panik kabur, malam itu berubah jadi celaka.

***

29 Oktober (363 Hari Hilangnya Livi)

Livi masih ada diingatan semua orang—tak pernah ada yang lupa hilangnya seorang siswi cerdas itu. Kota Bekasi geger akan berita menganggu ini, pada hari esok sejak hilangnya Livi, satuan kepolisian Kota Bekasi memeriksa sekolah itu dan menjadikan teman-temannya yang ikut bersamanya pada malam itu sebagai saksi.

Dina, Glenn, dan yang lainnya tidak bisa menjawab apapun kecuali:

“Demi apapun, teman kami hilang begitu saja pak. Kita sendiri tidak mengerti kenapa bisa sampai begitu…”

Gambar 1. Polisi mencari Livi yang hilang

Pencarian polisi dipersulit karena  jejak darah dari kepala Livi yang menghantam lantai, tiba-tiba hilang di dekat pohon beringin sekolah. Tak ada satupun tetesan darah tanda tubuhnya telah diangkat, dan seluruh tempat sekitar telah digeledah untuk mencari keberadaan Livi—tapi hasilnya nihil. Bapak penjaga sekolah pun jadi panik sendiri karena telah membiarkan anak-anak masuk kesekolah malam-malam, ia bilang kalau tak ada satupun orang yang keluar masuk dari sekolah ini kecuali para anak-anak itu—tak lama setelah kejadian ini ia dibebas tugaskan oleh pihak sekolah.

Berbagai poster orang hilang disebar oleh pihak keluarga dan juga teman-teman Livi, poster-poster itu ditempel di berbagai tempat strategis di Kota Bekasi. Mereka juga menyebar berita pencarian Livi di berbagai platform media sosial, tapi setelah berbulan-bulan hasilnya tetap nihil. Setelah waktu lama pencarian tanpa hasil, akhirnya teman-teman Livi menyerah—mereka menganggap kalau Livi sudah diambil Iblis itu dan telah tiada. Tetapi orang tua Livi tidak terima, mereka tidak percaya hal seperti itu sama seperti Livi. Sampai hari hilangnya yang ke-90, mereka masih terus berusaha, bahkan sampai mengirim surat ke Presiden Indonesia agar dibantu pencariannya.

Gambar 2. Tangisan keluarga Livi, karena anaknya yang telah hilang…

Seperti mencari jarum dalam tumpukan jerami, Livi masih hilang hingga bulan Oktober di tahun berikutnya. Sekolah itu menjadi sepi peminat, teman-teman Livi yang lainnya sudah lulus dan saat ini sedang berkuliah di tempat yang berbeda. Tapi memori tentang Livi masih berada di ingatan mereka, membawa bekas luka yang menganga dalam guratan otak.

***

30 Oktober (364 Hari Hilangnya Livi)

Kota Bekasi kembali berguncang hebat oleh sebuah berita yang mengagetkan—begitu pula Negara Indonesia. Seorang siswi yang telah hilang selama hampir 1 Tahun tiba-tiba ditemukan tergeletak di dekat pohon beringin, tubuhnya masih berpakaian lengkap seperti tak tersentuh apapun, kepalanya tak ada bekas luka, kulitnya pucat laksana gading dan… perutnya buncit besar seperti sedang hamil.

Gambar 3. Livi ditemukan di pohon beringin itu

Yang menemukannya adalah seorang siswa tahun pertama yang paling dulu ke sekolah—biasalah anak rajin yang datangnya selalu paling pagi. Livi yang ditemukan dalam keadaan tidak sadarkan diri ia coba bangunkan, tapi Livi masih terpejam layaknya putri tidur. Sang siswi hilang akhirnya dibawa dengan mobil jemputan milik sekolah kerumahnya, orang tua Livi kagetnya bukan main karena sang anak semata wayang akhirnya kembali. Air mata bahagia mereka berdua mengalir deras ke pelupuk pipi, tapi kemudian berubah menjadi wajah kaget dan mata terbelalak karena perut sang anak yang seperti sedang mengandung.

Kedua manusia menjelang paruh baya ini menjadi kebingungan, kenapa perut anaknya bisa membengkak sebegitu besarnya. Mereka mengangkatnya dengan sangat hati-hati untuk dibawa ke kamar yang sudah lama tidak berpenghuni, disitu tubuh Livi dibaringkan di kasurnya yang empuk dan cukup mewah.

Kabar ini langsung disampaikan ke teman-teman dekat Livi yang sekarang sedang berkuliah, mereka bahagianya bukan main terutama Dina yang langsung menangis hebat ketika mendengar berita ini. Sayangnya tak semua bisa langsung pulang ke Bekasi karena 3 teman Livi yang lain berkuliah di Sumatera dan Bali, hanya Glenn dan Dina yang bisa pulang ke Bekasi karena kebetulan mereka berkuliah di Jatinangor—mereka berdua berpacaran sekarang.

Sorenya mereka sampai ke Bekasi, tanpa basa-basi mereka berdua langsung menuju rumah Livi yang berada di Cibubur. Sesampainya disana Glenn dan Dina langsung disambut dengan suara ramah tamah dari kedua orang tua Livi, mereka semua masih bercengkrama di halaman depan rumah—suasana penuh kebahagiaan karena akhirnya Livi ditemukan. Tak lama banyak wartawan dari berbagai stasiun TV berdatangan kerumah Livi, mereka ingin meliput kembalinya “Siswi Hilang yang Diambil Makhluk Halus”.

Gambar 4. Wartawan ramai berdesakan di dekat rumah Livi

Orang tua Livi marahnya bukan main, mereka mengusir semua wartawan yang ada disitu. Yang paling vokal adalah ayah Livi yang langsung mengajak para tetangga untuk mengusir para wartawan ini, setelah perdebatan dahsyat yang tentunya tertangkap kamera. Para wartawan itu bisa diusir, walau beberapa yang bandel masih merekam diam-diam dari kejauhan.

Tetiba suara auman yang terdengar mengerikan dan memekakkan telinga terdengar dari dalam kamar Livi, suara itu kencang sekali jadi pasti terdengar hingga ke setiap sudut rumah tetangga lain. Wartawan yang tadinya sudah jauh dari rumah Livi jadi kembali lagi, tetangga yang tadinya bergumul dengan wartawan agar ketenangan keluarga Livi tidak diganggu malah ikut penasaran ingin masuk, intinya semua ingin menyerbu masuk kedalam kamar Livi.

Gambar 5. Suara auman terdengar dari dalam kamar Livi

Beberapa orang ada yang berhasil masuk kedalam rumah, hal ini tak dapat dicegah karena suasana juga sudah awur-awuran. Betapa kagetnya orang-orang yang masuk kedalam rumah, ketika melihat Livi terbangun dengan tatapan kosong dan perutnya yang bengkak dahsyat seperti ingin meletus—kali ini lebih besar dibanding ketika ditemukan di pohon beringin tadi pagi. Livi juga sama sekali tak membuka mulutnya, tatapannya kosong seperti tak ada satupun hal yang sedang ia pikirkan di kepalanya.

Suasana chaos itu menjadi semakin tak terkontrol ketika wartawan yang tadinya sudah pergi malah kembali lagi, rumah Livi penuh sesak. Ramai, sesak, bau, bingung, kacau balau, akhirnya hari itu ditutup dengan datangnya ambulan yang datang kerumahnya dan membawanya ke rumah sakit untuk melakukan pemeriksaan terkait perutnya. Apa yang ada dalam perut itu sebenarnya?

***

31 Oktober

Perut itu ternyata kosong dan tak berisi, padahal perut Livi besar membengkak. Suasana jadi penuh runyam, ibu Livi paniknya bukan main saat itu. Ia keluar ruangan dengan muka merah, campuran bingung, kesal, dan malu.

Gambar 6. Perut itu kosong dan tak berisi sama sekali

“Bagaimana tante? Gimana hasilnya?” Glenn bertanya pada ibu dengan nada ragu.

“Glenn… tante bingung…”

“Ada apa tante?” Dina ikut bertanya pada ibu.

“Perut Livi… perutnya…,” Ibu Livi terisak sehingga tidak bisa menyelesaikan kalimatnya.

Ibu Livi memeluk Dina dengan erat, ia terisak pada pundaknya, di tengah tangisannya yang sedu ia berkata pelan di telinga Dina.

“Perutnya tak ada isi…”

Dina seperti tersambar petir, wajahnya langsung dipenuhi rasa getir. Glenn menatapnya khawatir, mungkin berpikir apa yang sebenarnya terjadi. Hari yang seharusnya berbahagia itu benar-benar jadi runyam, makhluk itu menyerang sekali tapi rasa sakit yang dirasakan semua orang sangat dalam. Muncul banyak pertanyaan di otak mereka, apa jangan-janga Livi mengandung anak…

“Ah tidak mungkin!” Ibu Livi spontan berkata demikian.

“AHHHHHHHHHHHHH!!!!!!!” Teriakan yang sangat keras terdengar dari ruang USG.

Ibu Livi spontan masuk ke ruangan itu dan melihat air ketuban yang menetes, anehnya air ketuban itu berwarna hijau dan beraroma busuk. Dokter yang sigap langsung membawa Livi ke ruang bersalin untuk menanganinya, ia bersama para suster yang terlibat bergerak cepat untuk melakukan tindakan. Orang tua Livi, Glenn, dan Dina mengikuti mereka dengan perasaan was-was, sebenarnya apa sih yang terjadi—dunia mereka saat itu terasa aneh dan surreal.

Memasuki ruang bersalin, hanya ibu dan ayah Livi yang diperbolehkan untuk masuk ke dalam. Glenn dan Dina hanya bisa menunggu diluar dengan perasaan khawatir, pertemuan mereka dengan Livi yang nyaris hilang dari kehidupan mereka harus ternodai. Ruang bersalin itu agak jauh dari pusat keramaian rumah sakit, di dekat ruang bersalin ada lorong gelap yang kebetulan mengarah ke dalam gedung rumah sakit yang sedang di renovasi.

Bayangan besar tiba-tiba terlihat dari arah lorong itu, hanya mata berwarna hijau zamrud yang terlihat dengan jelas. Moncongnya bebeknya terlihat samar-samar, moncong itu menyeringai dan memberikan tatapan ngeri pada mereka Dina dan Glenn.

Gambar 7. Makhluk itu berdiri di ujung lorong

“HALO ANAK-ANAK MANIS, TERIMA KASIH MALAM ITU KALIAN TELAH MEMBERIKAN PASANGAN UNTUKKU. AKU TAK PEDULI RASA LAPAR ASAL BERAHIKU TERPENUHI, ha HA HA hA Ha,” Sosok besar itu berkata dengan suara yang menjijikkan dan agak serak seperti ada batu di dalam tenggorokannya.

Mereka berdua hanya diam selagi bayangan itu kembali ditelan kegelapan, sekujur tubuh mereka bergetar karena takut. Jemari mereka saling bergandengan untuk mengusir rasa takut, tapi bayangan itu tak mengancam—dia kembali hilang.

Dokter membuka pintu ruangan persalinan, rupa-rupanya persalinan itu telah usai. Tapi ruangan itu bising sekali karena teriakan penuh teror dari Livi, tapi bayi itu ternyata terlihat normal—tak ada satupun cacat di tubuh mungilnya yang berwarna putih. Matanya bulat besar persis seperti ibunya, hidungnya agak mancung, dan ada sedikit rambut yang muncul dari kepalanya.

Teriakan Livi memancing kebingungan dari orang-orang sekitar, ibu memeluk Livi dengan erat sambil terisak-isak. Ayah mengangkat bayi laki-laki itu dengan bahagia, walaupun sebenarnya diliputi rasa kebingungan tentang siapa bapak dari anak ini? Dina dan Glenn menatap bayi itu dengan tatapan jijik, mereka berdua menahan muntah agar tidak keluar di lantai rumah sakit itu. Suara yang mengerikan tiba-tiba berbisik di dekat daun telingan Glenn dan Dina:

”NAMA BAYI ITU WAGINI.”

Gambar 8. ….

Penulis: Irza Fauzan

Editor: Nilam Baiduri

 

Leave a Response

Irza Fauzan
Intern Content Writer buat Bekasi Keren, suka makan burger, burger, dan burger.